Thank you for the good times. I will not soon forget this night. You’re one of the nicest people I have ever met.
I’m disappointed and hurt about this season. Losing the title is hard… losing the title to City is harder… losing the title to City on goal difference is my absolute worst nightmare. But, I am not hiding my head in shame, because I believe. I believe in our history, I believe in our mentality, I believe in our squads, I believe in Sir Alex and I believe United will recover and rise again in the next season.
Glory Glory Manchester United.
minggra: sepertinya ada kesalahan input nilai pada elevasi (nilai Z). oh ya, apakah CAD nya ditambahin dgn software Quicksurf juga? >> iya mas itu purpose grading untuk kawasan wisata. nah waktu di isometri baru ketauan -__-" di properties emang Z nya ternyata pada kacau, ini dapet file konturnya dari perhutani. maaf mas, quicksurf apa ya? tadi udah dicoba semua Z diinput 0, ternyata ga ngaruh juga...
Dari perhutani dapet data Z-nya nggak mas? Kalau Z nya diinput 0 semua, justru nanti garis konturnya jadi rata dan ketika di-isometri malah nggak kelihatan tampilan 3D purpose gradingnya.. Harusnya ada lampiran data ketinggian/ elevasi/ nilai Z yang diberikan oleh perhutani pada tiap-tiap garis kontur yang tentunya mempunyai nilai elevasi/ nilai Z yang berbeda-beda, agar ketika di-isometri purpose gradingnya terlihat.
Misalnya seperti gambar saya dibawah ini :

Nilai Z pada garis kontur warna kuning > garis kontur warna hijau > garis kontur warna biru > garis kontur warna coklat dst. Hal ini karena nilai Z yg diinput pada garis kontur tadi berbeda-beda. Jadi kayaknya tetep harus mencari nilai data Z yang sebenarnya dari masing-masing garis kontur tersebut.
Oh ya, Quicksurf itu seperti software tambahan yang diinstal kedalam CAD untuk mempermudah dalam pembuatan peta kontur/ purpose grading. Seperti yang saya gunakan diatas. Goodluck!
happy birthday dhy!
Hey United Fans, I would like to say thank you for taking your time to read, liked, reblogged and support my post —> http://scarsymmetry.tumblr.com/post/22146001878/if-you-cant-support-us-when-we-lose-you-cant-support-us-when-we-win

update May 1st, 2012 : 06.12 p.m :

update May 2nd, 2012 : 07.26 p.m :

You’re awesome. There are two games left in the EPL and United still has a chance of winning it. I still believe Manchester United will be a champions for this season. So keep your heads up Reds!!
If you can’t support us when we lose, you can’t support us when we win.
Keluarlah dari zona nyaman. Tetap berjuang disana dengan berani. Jadilah diri sendiri agar anda tak sia-sia dilahirkan di dunia ini. Tunjukkan pada dunia, anda itu ada. Kerjakan sendiri selagi anda masih mampu mengerjakannya sendiri. Hapus budaya minta tolong. Belajar mandiri tanpa bantuan orang lain. Pangkas jam tidur. Gunakan waktu sebaik-baiknya dalam jatah dua puluh empat jam sehari. Ingat, harimau yang hidup liar dan bebas di alam buas jauh lebih kuat daripada harimau yang hidup di dalam kandang nyaman kebun binatang!
lifeispoorwithoutsound: Where did you get that beautiful book about stalin? If you want any transulation i can help you in that case.
Oh this book is my grandpa’s collection, my grandpa can speak Dutch language but unfortunately he has already passed away. Actually I’m so interested with Marx, Lennin and Stalin’s perception but I don’t know why it is prohibited in Indonesia. So I’m really happy if you want to help me translating this book, but how?
Sudah lama saya nyari buku ini… Setelah ngebongkar perpusnya kakek, akhirnya ketemu juga :)

Preview halaman 99 - Bisa dikatakan dasar paham Marx menggabungkan salah satu dari dua filosofi yang dikeluarkan oleh Georg Wilhelm Friedrich Hegel dan Ludwig Andreas von Feuerbach. Terlihat dalam hubungan garis segitiga dibawah. Hmm.

Sayangnya buku ini masih dalam bahasa Belanda, jadi harus pelan-pelan ngebacanya…
Rasanya dua puluh empat jam dalam sehari kurang cukup bagi saya di bulan April ini. Hampir sebagian dari jatah dua puluh empat jam itu terbuang untuk kegiatan akademik di kampus. Mulai dari ngerjain tugas yang nggak jelas, praktikum nggak penting hingga kuliah lapangan di Bayat - Klaten selama lima hari, yang menurut saya kuliah lapangan tersebut sangat-sangat berguna bagi mahasiswa yang ingin belajar begadang. HAHAHA.
Diluar dari kegiatan itu, saya juga masih harus menyisihkannya lagi untuk mengolah data-data mentah beberapa perusahaan tambang yang menginginkan jasa olah data dari saya. Dan yang terpenting adalah saya belum sempat menyelesaikan tulisan Ekspedisi Lintas Khatulistiwa Indonesia di tumblr saya ini-.-huhuhu.
Nah, supaya nggak jenuh dalam menghadapi padatnya jadwal tadi, saya selingi dengan kegiatan lain, yaitu mengumpulkan lagi batu-batuan yang dulu pernah saya ambil dari penjuru Indonesia untuk dijadikan museum geologi mini. Ada Batubara yang berasal dari Kaltim-Kalsel dan Kalteng (warna Hitam Kusam), Nikel yang saya temui di Sulawesi Tenggara dan Halmahera (warna hijau muda), Bauksit/ Alumunium yang saya dapat di Kalbar (warna merah kecoklatan), Bijih Besi dari Sulawesi Barat (warna coklat keabu-abuan kusam), Urat Emas/ Vein dari Cibaliung-Jabar (warna putih corak kuning) dan masih banyak lagi.
Berikut ini tulisan visualnya :)
Tampak Samping :

Tampak Atas :

Tampak Depan :

Semoga saja kedepannya Indonesia mampu menambang dan mengolahnya sendiri tanpa bantuan/ campur tangan negara asing agar hasilnya dapat bermanfaat maksimal untuk kesejahteraan rakyat di Tanah Air :)
Anonymous: Halo,tumblrnya bagus,kalau boleh tau kuliah dimana dan jurusan apa?
Halo Anon! Wah makasih banyak.
Saya kuliah di UPN Veteran Yogyakarta jurusan Teknik Pertambangan :)
Jauh di pedalaman, sayup kumandang adzan dari surau kecil di ujung belahan utara Kalimantan Tengah mengawali datangnya cahaya. Siluet jingga di ufuk timur perlahan memberai formasi pekatnya kabut pagi di desa Tumbang Jojang. Hari ini saya bangun dengan segan lantaran akan mencicipi liarnya sungai Busang yang telah menanti.
Riam Tapah - 18 Maret 2012
Satu persatu warga desa Tumbang Jojang singgah di balai desa, tempat kami bermalam. Mereka bertanya-tanya apa maksud dan tujuan kami datang di tanah mereka.
“Kami disini akan melakukan survey batubara yang berada di hulu Busang. Untuk mempercepat pekerjaan, rencananya kami ingin bermalam di dalam hutan selama sepuluh hari” ujar mas Wahyu ketika bersosialisasi.
Warga disini sudah tak asing lagi mendengar kata batubara. Bahkan banyak dari mereka pernah melihat dan mengambil sample batubara yang tersingkap di permukaan bumi.
“Hulu Busang memang tempatnya. Bahkan kalau nanti sempat ke hutan Parahau, bapak bisa lihat lebih banyak lagi hamparan batubara di dasaran sungai” ujar Acan. Ia adalah penduduk asli suku dayak Kreho sekaligus seorang motoris cis (perahu kayu panjang) yang akan mengantarkan kami menyusuri sungai Busang hari ini.
Sekilas, sungai Busang pagi ini terlihat surut dan cukup tenang. Namun, menurut informasi dari para warga, permukaan air sungai Busang ini cepat sekali naik apabila terjadi hujan deras di hulu sungai Busang. Bahkan pada tahun 2009 lalu, sungai Busang pernah menelan satu korban jiwa, yaitu Hendra Ramdan Purnama, seorang aktivis WWF-Indonesia asal Jawa Barat.
“Riam-riam di hulu jahat sekali. Bahkan, ada salah satu riam yang berkabut. Kami tidak berani melintasinya, kecuali air sedang surut” Kata Acan membagi pengalamannya.
Nyali saya bener-benar diuji disini. Ada sedikit penyesalan ketika kecil dulu saya selalu males kalo disuruh latian berenang. Untung kami sempet beli pelampung di Puruk Cahu. Walaupun sebenernya pelampung tidak bisa sepenuhnya dijadikan andalan untuk bertahan hidup di sungai.

Jika tenggelamnya di laut, ada kemungkinan pelampung dapat berfungsi maksimal dalam menjaga tubuh agar tetap mengambang di permukaan air. Namun berbeda dengan sungai. Sungai memiliki arus. Aliran sungai mampu menyeret benda-benda yang mengambang di permukaan. Apalagi di sungai yang memiliki riam-riam liar seperti di sungai Busang. Oh ya, kata para warga, ada ikan Tapah yang juga hidup di dalam sungai Busang ini. Ikan Tapah itu seperti ikan Piranha versi Kalimantan. Namun badannya berukuran besar dan mempunyai gigi yang sangat tajam.
“Hati-hati jika buang air besar di Busang. Belum lama ini, jari tangannya Leo putus disambar ikan Tapah” ujar Acan mengakhiri cerita seramnya.
Bzzzzz. Terimakasih informasinya -,-
Rasanya saya ingin berjalan kaki, walaupun harus menempuh jarak puluhan kilometer menembus hutan daripada hanya duduk diatas perahu cis menyusuri sungai Busang yang penuh riam dan ikan tapah.
Lepas jam dua belas siang, saya, mas Dani dan mas Wahyu bersiap untuk melakukan orientasi di hutan sungai Busang. Tujuan dari orientasi ini adalah untuk mencari dan menentukan dimana posisi/ letak yang bagus untuk mendirikan tenda/ camp di dalam hutan. Selain itu, kami juga ingin mempelajari morfologi dan formasi batuan utama yang mendominasi areal eksplorasi kami.
Dua buah cis sudah menunggu dan siap mengantar kami dari dermaga desa Jojang menuju areal survey batubara yang terletak di hutan Busang.

Sepintas, saya memperhatikan air sungai Busang mulai surut. Namun bukan berarti riam mereda dan ikan tapah menjadi jinak.
Bermodal nyali dan pelampung, kami mulai menyusuri liarnya sungai Busang. Saya menaiki perahu kecil bermesin 25 PK yang dikemudikan oleh Japari. Sementara mas Wahyu bersama mas Dani berada di perahu lain yang dikemudikan oleh Acan. Dua buah mesin cis meraung dan mengeluarkan suara keras. Baru lima ratus meter dari Tumbang Jojang, kami sudah dihadapkan pada jajaran riam-riam liar. Perahu digoncang gelombang. Mesin meraung makin keras mencoba melawan aliran riam yang tak tentu arah. Japari sibuk memainkan kemudi dan mengatur pedal gas. Permukaan air sungai berubah menjadi tajam dan berbuih. Di kiri dan kanan, batu-batu besar berhamburan seolah membentengi badan sungai, namun bentuknya tak beraturan. Beban perahu sepertinya tambah berat saja, lantaran banyaknya air sungai yang masuk kedalam perahu. Sungai makin menyempit, batu-batu besar mencuat dimana-mana. Beruntung bagi saya, Japari sangat mahir dalam meliuk dan menyelusup diantara batu-batu besar yang tergeletak di tengah sungai. Riam demi riam berhasil dilewati hingga kami tiba di pintu gerbang hutan Busang.

Matahari perlahan mulai meredupkan sinarnya. Hari berlalu begitu cepat seperti ditelan riam. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda dan bermalam di tepian sungai Busang.
Batubara Pertama - 19 Maret 2012
Ikan Jelawat hasil dari memancing tadi malam, menjadi menu sarapan pagi ini.
“Sebenarnya ikan jelawat ini baik kalau dibakar. Bumbu kecap dan sambal jeruk bisa meresap cepat di dalam daging jelawat yang halus dan tak banyak duri” Acan berkata sembari menyantap ikan.
“Aok (Iya), tapi nanti malam tak bisa nyenyak tidur” Japari menambahkan.
“Eh? Emang kenapa Pak?” Tanya saya.
“Di Busang, kita tak boleh bakar Jelawat, Seluang (sejenis ikan juga, namun ukurannya kecil-kecil) dan Belacan (terasi). Baunya (aroma hasil bakar-bakaran) bisa buat penghuni hutan disini marah” ujar Japari menjelaskan.
Adat istiadat dan kepercayaan kuno leluhur dayak masih sangat dipatuhi oleh masyarakat disini. Mereka menempatkannya pada satu titik tertinggi diatas agama. Perayaan lebaran ataupun natal di kampung bisa dibilang biasa saja, namun kalau sudah urusan upacara adat, mereka akan berusaha menyiapkan dan melaksanakannya se-istimewa mungkin. Saya tidak bermaksud mengatakan hal ini baik atau buruk bagi mereka, karena ini adalah soal keyakinan dan kemantapan hati dari sang pemiliknya. Sikap saya sebagai pendatang baru di hutan Busang, tentu akan menghormati dan mematuhi larangan adat yang telah mereka katakan pada saya. Walaupun sampai saat ini saya tidak percaya dengan cerita Japari tadi yang mengatakan bahwa dengan membakar ikan Jelawat, Seluang atau Belacan dapat menyebabkan bencana. Toh nggak ada salahnya juga kan kalau saya yang notabene sebagai tamu harus mematuhi aturan sang pemilik rumah?
Inilah perjalanan pertama bagi saya, mas Wahyu dan mas Dani. Perjalanan yang sudah lama saya tunggu untuk segera masuk ke dalam hutan hujan tropis di sungai Busang, Kalimantan Tengah. Dari tepian sungai Busang, kami terus menyusuri jalan setapak bekas rintisan orang-orang dayak yang mencari gaharu. Dari tepian sungai, kami terus berjalan mendaki menyisir tepian bukit untuk menghindari tebing-tebing curam yang tak dapat dilewati. Hutan lebat memayungi kami dari sapaan terik matahari di sepanjang perjalanan. Nafas terasa semakin berat karena hampir setengah tahun ini saya jarang menjelajah alam seperti dulu. Kuncinya, tetap atur langkah agar tidak terlalu cepat berjalan dan tidak terlalu sering berhenti. Dan usahakan jangan terlalu sering minum. Jika terlalu banyak minum, maka kita akan kesulitan mengatur nafas perut. Padahal mengatur dan menahan nafas perut sangatlah penting untuk menopang beban di bagian punggung ketika sedang berjalan mendaki bukit.
Lelah menyapa ketika kami menemukan alur sungai kecil, di lereng bukit setelah tiga kilometer berjalan mendaki. Air sungai yang mengalir sangat sangat jernih. Sungguh jauh berbeda dengan sungai yang terdapat di kota-kota besar. Debit air di sungai ini juga sangat mencukupi untuk menjadi sumber kehidupan apabila kami ingin mendirikan basecamp di sekitar sungai ini.

Kami cukup lama berdiskusi dan meneliti batu-batuan di sekitar sungai untuk mengukur strike (arah umum) kedudukan batuan. Dari arah umum inilah, kami bisa menentukan/ memutuskan kemana larinya batubara yang akan dicari.
Pekerjaan di lapangan seperti ini harus hati-hati. Salah perhitungan sedikit saja, maka segala rencana teknis menjadi sia-sia. Kerja lapangan dituntut untuk selalu tenang dan berfikir jernih sekalipun dalam kondisi lelah dan capek. Tapi kerja lapangan gini banyak juga kok serunya. Kita bisa kerja pake kaos oblong. Nggak harus rapi pake kemeja, dasi, celana kain dan sepatu kulit. Kerja lapangan itu bisa santai se santai santainya. HAHAHA. Bayangin, kita nggak terikat oleh waktu. Mau mulai kerja pagi/ siang/ sore nggak ada yang ngelarang. Bebas yang penting nggak ngelepas tanggung jawab. Disaat capek berjalan, kita bisa istirahat kapanpun kita pengen istirahat. Kerja lapangan itu merdeka :)
Tak jauh dari sungai tadi, akhirnya kami bisa menemukan singkapan batubara pertama yang kami cari. Saya sangat senang karena pekerjaan di hari ini tidak hanya menyisakan lelah saja. Ada sebongkah batubara yang kami temui untuk dijadikan cerita tertulis resmi yang siap kami kirim ke Jakarta. Batubara dengan tebal 40 cm itu sepertinya malu untuk ditemui, karena ia masih saja bersembunyi dibawah akar pohon besar. Hampir saja kami putus asa tidak bisa menemukannya.

Tak disangka! Untuk bertemu langsung dengan batubara mungil tersebut, saya dan kawan-kawan harus melintasi khatulistiwa, melewati jajaran riam dan mendaki bukit yang tinggi. Esok, kami harus kembali ke desa Tumbang Jojang untuk bertemu dengan Matt Bull. Ia adalah geologist asal Australia yang juga akan bergabung di tim ini. Nantikan tulisannya dalam Ekspedisi Lintas Khatulistiwa Indonesia - Part III.
Warna biru membias di langit Jakarta ketika pesawat berhasil take-off dan mencapai ketinggian diatas 10.000 kaki diatas permukaan air laut. Sebuah perjalanan panjang dari ibukota melintasi laut jawa hingga merapat ke garis khatulistiwa dimulai dari hari ini.
Di Udara - 16 Maret 2012
Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan Leaving Jakarta. Terimakasih bagi yang sudah reply untuk bersedia membangunkan saya. Hehehe. Tapi, semalem saya memutuskan untuk nggak tidur. Bukannya sengaja begadang, tapi pada saat itu, waktu udah menunjukan pukul 01.00 dini hari (selesai ngerjain peta dan ploting area kerja di GPS) sementara itu saya harus nyampe bandara Soekarno-Hatta sekitar jam 05.00 pagi buat check-in dan lain-lain. Artinya paling lambat saya harus berangkat dari mess sekitar jam 03.30 supaya nggak terjebak macet di jalan. Nah, misalnya saya paksain tidur, takutnya nanti saya malah ketiduran dan terkena serangan jantung (baca: kaget) karena pas saya bangun udah ngeliat matahari berkibar dengan gagahnya diangkasa. Yaa daripada tiket pesawat saya hangus karena kebodohan saya tersebut, mendingan saya nggak tidur sekalian dan bertekad tidur di dalem pesawat nanti.
Taksi pesenan udah nungguin saya di depan mess, tepat jam 03.30 pagi.
“Pak, ke bandara ya?”
“Iya mas” jawab sopir taksinya. Selang lima menitan dia nanya ke saya.
“Pesawatnya apa mas? Berangkat jam berapa?”
“Garuda pak, berangkatnya jam enem” Jawab saya.
“Oohh, masih lama.. Pagi bener mas ke bandaranya”
“Iya pak, Jakarta kan macet, takut aja ntar kalo berangkat kesiangan malah kejebak macet” Jawab saya berargumen.
“Jangan kuatir mas, bandara mah deket dari sini. Noh liat kita udah nyampe tol. Paling juga ni argo nggak nyampe cepe (seratus ribu rupiah), mas udah nyampe deh di bandara”
“Oh.. gitu yaa?” Argumen saya ternyata salah -,-
Anjrit. Berarti pas hari kemarennya saya tiba dari Jogja ke Jakarta terus berangkat ke mess dari bandara pake taksi, saya kena tipu dong? Rute perjalanan kemaren sama sekarang ini beda banget. Yang sekarang ini pokoknya cepet bangetlah udah nyampe tol. Nah yang kemaren itu sempet mampir ke kebon jeruk lah, kena macet di petamburan lah dan sampe saya bingung mampir lagi di daerah apaan. Sial. Berarti saya kemaren diputer-puterin ama sopir taksinya. Pantesan kemaren argo taksinya nyampe angka seratus lima puluh ribu rupiah.
Mungkin disinilah seninya travelling. “Ketika kita tersesat, jangan panik. Jadikanlah rute perjalanan yang baru.” Nah, sepertinya kutipan itu dapat diterapkan di dalem taksi. “Jangan pernah nyesel ketika lo diputer-puterin ama sopir taksi. Anggep aja lo lagi dikenalin ama yang namanya kota Jakarte” HAHAHAHA.
Sampe di bandara bener-bener masih pagi. Jam 04.45. Tau gitu kan saya tadi bisa tidur dulu di mess. Ah sudahlah, tak ada yang perlu disesali (sok bijak ditengah penyesalan yang mendalam).
Bisa dibilang hari ini saya bakalan dapet sejuta pengalaman baru. Hari ini saya berkesempatan untuk mengunjungi kota Palangkaraya untuk pertama kalinya. Hari ini, saya juga dapat merasakan gimana sih naik maskapai Garuda Indonesia untuk pertama kalinya. Hahahaha. Ndeso ya? Eits, tapi jangan salah lho. Biarpun naik Garuda buat yang pertama, tapi untuk pesawat lain mah udah pernah saya cobain semua. Mulai dari Adam Air (yang kini ‘tlah tiada), Merpati, Mandala, Lion/ Wings Air, Sriwijaya, Batavia, Air Asia (astagaaa malah pamer. HAHAHA).
Dengan langkah lemas karena ngantuk berat, saya menuju ke bagian pelaporan (check-in) Garuda. Pelayanannya ramah sekali pagi ini. Oh ya, kita juga bakal ditanyain mau duduk dimana. Saya langsung memilih duduk dekat jendela, siapa tau bisa mengabadikan gambar-gambar di angkasa nanti. Selesai check-in saya langsung menuju restoran di bandara. Saya benar-benar membutuhkan kopi saat ini.

Waktu yang dinanti telah tiba. Rangkaian perjalanan panjang melintasi laut jawa menuju Palangkaraya sudah di depan mata. Take-off Garuda betul-betul sempurna. Perlahan tapi pasti, pesawat inipun berhasil nge-fly di udara.

Alhasil, saya nggak bisa tidur. Bukan karena kagum akan pemandangan indah diangkasa, namun karena pramugari yang sibuk menyiapkan sarapan. Menawarkan ini-itu. Saya baru tau kalo Garuda menjamin perut kita supaya tetap kenyang di udara.

Welcome to Tjilik Riwut Airport - Palangkaraya. Sebetulnya desain bangunan bandara ini bagus, namun yang sangat disayangkan bandara ini kotor. Banyak sampah berserakan dimana-mana. Ada juga orang-orang yang merokok tidak pada tempatnya.
Dari Palangkaraya, saya langsung melanjutkan perjalanan menuju Puruk Cahu dengan menggunakan pesawat kecil bernama Aviastar. Pesawat kecil ini ternyata bener-bener kecil (diluar dugaan saya). Kapasitas penumpangnya saja hanya 16 orang. Body pesawat dan interior dari pesawat ini juga terlihat sudah sangat tua. Ooohh Indonesia, kenapa pesawat ini masih boleh dan layak dapet ijin terbang? -,-

Penerbangan dari Palangkaraya ke Puruk Cahu memakan waktu sekitar 1 jam dengan ketinggian jelajah udara yang rendah. Sepanjang perjalanan, saya melihat banyak sekali hutan-hutan di Kalimantan Tengah yang telah gundul akibat dari penebangan liar dan aktivitas penambangan liar. Sungguh disayangkan, padahal Hutan Hujan Tropis di Kalimantan Tengah sangat berperan sebagai paru-paru dunia.

Cuaca terbilang sangat bagus, sehingga pesawat dapat terbang dan mendarat dengan sempurna di Puruk Cahu. Oh ya, kota Puruk Cahu merupakan ibukota dari kabupaten Murung Raya propinsi Kalimantan Tengah. Setiba di Puruk Cahu, saya telah dijemput oleh tim geologi dari perusahaan tempat saya bekerja. Sambutan yang cukup ramah dengan pernyataan dan pertanyaan kecil yang mengena : “Eh Ky, ayok makan dulu. Kita ke warung yang jual sate pelanduk (kancil) khas Puruk Cahu. Enak lho. Kamu laper kan? habis makan, kamu bisa tidur, biar besok udah fit lagi sebelum kita berangkat ke Busang”
——-
Menjamah Khatulistiwa - 17 Maret 2012
Pagi hari terasa begitu panas di Puruk Cahu. Namun panasnya alami. Bukan seperti panas di Jakarta yang pengap. Hari ini saya beserta tim bersiap menuju hutan di Sungai Busang. Namun sebelum menuju Sungai Busang, kami harus meminta ijin terlebih dahulu kepada kepala desa dan kepala adat di desa Tumbang Jojang. Desa Tumbang Jojang adalah desa yang letaknya paling dekat dengan Hutan di Sungai Busang. Oleh karena itu kami diwajibkan untuk lapor terlebih dahulu kepada pengurus desa setempat demi lancarnya pekerjaan kami. Desa Tumbang Jojang ini juga merupakan desa yang terletak di paling utara dari propinsi Kalimantan Tengah. Suku yang mendiami desa ini bernama suku Dayak Kreho.
Berbekal dengan sarapan nasi kuning khas Banjarmasin, kami menuju Puruk Cahu dengan menggunakan 2 mobil. Saya bersama mas Dani, alumni Geologi STM Pembangunan Yogyakarta 2004 (selaku senior saya juga) dan mas Wahyu, alumni Geologi UPN Veteran Yogyakarta (angkatan 1991) berada dalam satu mobil agar bisa berdiskusi untuk merancang langkah kerja selama besok di lokasi. Sementara itu, mobil yang lain ditempati oleh Pak Is Marcello bersama dengan barang-barang dan peralatan survey kami. Pak Is ini gaul lho. Walaupun usianya sudah menua, namun hati dan jiwanya tetap muda. Ia dulunya rocker dari band apa gitu namanya (saya lupa, padahal dia cerita banyak banget tentang perjuangan hidupnya), sampe-sampe ia bisa konser keliling Indonesia dan akhirnya jatuh bangkrut gara-gara ditipu oleh temen-temen bandnya sendiri sampe uangnya dia habis. Singkat cerita ia sempat hidup luntang-lantung di jalanan hingga melamar sebagai pekerja serabutan diberbagai pabrik di Jakarta hingga akhirnya ia melamar pekerjaan di perusahaan ini sebagai OB. Namun sekarang ia dipercaya sebagai koordinator logistik dan koordinator non-teknis lainnya karena ia mempunyai nilai plus tersendiri, yaitu pandai berbicara, bergaul dan cepat akrab dengan orang-orang yang baru ia temui.
Kami berangkat pagi-pagi sekali, sekitar pukul 05.00. Estimasi perjalanan yang akan kami tempuh kurang lebih akan memakan waktu sekitar delapan jam dengan perkiraan waktu tiba di desa Tumbang Jojang sekitar pukul 12.00. Kondisi jalan (menurut informasi) 70% rusak parah. Well, sepertinya pembangunan infrastruktur di kabupaten ini belum merata.

Selama di perjalanan, kami sempat mampir di beberapa spot yang merupakan area/ tempat peristirahatan yang menawarkan keindahan bumi Kalimantan sebagai pengobat rasa lelah selama berkendara. Tempat pertama yang kami singgahi adalah Puncak Bukit Bumbun. Bukit ini menawarkan pemandangan alam yang luar biasa. Dari bukit ini saya dapat melihat barisan pegunungan Muller yang dulu pernah dilintasi oleh (alm.) Norman Edwin dalam rangka ekspedisi lintas Kalimantan pada tahun 1983. Saya sangat mengagumi sosok Norman Edwin. Beliau adalah pendaki gunung, pengembara ilmiah, pelayar lautan dan penulis kisah perjalanan andal yang sudah punya “umat”-nya sendiri. Ketika saya menatap Pegunungan Muller dari kejauhan, saya jadi terbayang akan susahnya perjuangan seorang Norman Edwin dalam menerobos hutan paling ganas di Kalimantan ini selama 13 hari dan berhasil mengibarkan bendera Merah-Putih di tengah batas pegunungan Muller-Schwaner yang juga merupakan pertemuan dari batas tiga propinsi (Kalbar-Kalteng-Kaltim).
Dibawah ini adalah foto saya bersama dengan mas Wahyu dengan latar kaki pegunungan Muller yang puncak bukitnya masih tertutup kabut.

Spot kedua yang juga menarik untuk dikunjungi adalah air terjun Bumbun. Lokasinya tak jauh dari bukit Bumbun. Air terjun ini merupakan sebuah wisata alam yang juga mengundang kaki kami untuk singgah. Suasana alam air terjun Bumbun ini sungguh bagus, namun sayangnya tidak ada lagi pihak dari pemerintah kabupaten setempat yang merawatnya.
Berikut ini adalah suasana di lokasi air terjun Bumbun.

Foto di bawah ini (dari kiri ke kanan) : Pak Is, Saya, Mas Wahyu dan Mas Dani.

Dan ini dia air terjunnya.

Masih alami dan liar kan? Hehehe.
Oh ya, para pengunjung diwajibkan cuci muka sebanyak 3 kali di lokasi ini. Entah karena alasan apa. Konon, air yang terdapat disini merupakan air suci untuk memandikan para prajurit suku Dayak Kreho sebelum mereka pergi perang. Batu-batu besar berbentuk pipih yang terdapat di air terjun ini dulunya juga dimanfaatkan oleh suku Dayak Kreho untuk mengasah mandau (golok) mereka, sebelum mereka bertempur di medan perang. Wah serem amat. Setelah mengetahui cerita itu dari sopir kami (yang merupakan penduduk asli/ pribumi Kalimantan), kami langsung bergegas ciao dari lokasi air terjun Bumbun. HAHAHA.
Selama dalam perjalanan, saya lebih banyak tidur sambil mendengarkan musik. Lepas dari air terjun tadi, perlahan sinyal handphone menghilang. Tidak ada lagi pemukiman penduduk yang dapat saya temui disamping kanan dan kiri jalanan. Yang ada hanya barisan pohon-pohon rimbun yang berbaris liar di sepanjang jalan hingga saya tiba di desa Tumbang Jojang. Desa paling ujung dari propinsi Kalimantan Tengah, untuk kulo nuwun (minta permisi), ijin dan bermalam sebelum esok saya dan tim melanjutkan lagi perjalanan menuju Hutan Hujan Tropis di Sungai Busang - Kalimantan Tengah.


Perlahan, saya mulai mendekati garis khatulistiwa….
PS: Terimakasih sudah membaca. nantikan tulisan perjalanan saya berikutnya : Ekspedisi Lintas Khatulistiwa Indonesia Part II

